Mengajari Anak Dua Bahasa

Mengajari Anak Dua Bahasa
(Sebuah Pengalaman)
Suatu hari saya sedang mencukur kumis di depan cermin, kata Ahmad, “Bapak mau pura-pura muda ya”? (Dia ingin mengungkapkan bahwa dengan potong kumis bapak akan kelihatan lebih muda).
Kemampuan berbahasa yang baik sangat penting bagi anak. Hal itu juga seringkali mendasari orangtua agar sang buah hati menguasai dua bahasa atau bilingual, bahkan sejak usia dini. Tidak salah memang, karena dengan menguasai dua bahasa seorang anak akan mendapatkan banyak manfaat dan tentunya kebanggaan tersendiri bagi orang tua.

Dengan kecerdasan berbahasa, anak dapat mengembangkan kecerdasan lainnya. Kecerdasan berbahasa dapat membantu anak memahami informasi atau instruksi yang disampaikan. Ini memudahkan anak mengembangkan kecerdasannya.
Kecerdasan berbahasa maksudnya adalah kecerdasan yang menekankan pada kemampuan menggunakan kata-kata dan bahasa dalam kegiatan berbicara termasuk membaca dan menulis.

Kemampuan berbahasa, selain dapat membantu anak lebih memahami informasi tentunya juga dapat membantu anak berkomunikasi dengan lingkungan secara lisan maupun tulisan.

Apalagi, jika seorang anak terlahir dari orang tua yang berbeda bangsa. Saya punya teman perempuan Indonesia suaminya orang India, anaknya sebaya dengan anak saya, tapi kalau dilihat dari kemampuannya berbahasa anak saya lebih baik dan lebih banyak kosa kata yang dikuasai. Kenapa? Dalam kesehariannya ketika anak bermain dengan bapaknya maka bapaknya mengajari bahasa India, ketika dengan ibunya si anak akan mendengarkan ibunya ngomong bahasa Indonesia atau jawa, ketika bapak dan ibunya ngobrol mereka memakai bahasa inggris, siapa yang nggak bingung? Orang dewasa pun akan bingung juga.
Dalam hal ini penguasaan bahasa kedua orang tua tentunya diperlukan karena kemungkinan untuk tinggal di negara lain dengan bahasa yang berbeda lebih besar dibanding anak dari orang tua yang berasal dari negara yang sama.
Suatu hari bapak saya bertanya tentang cucu-cucunya apakah mereka sudah pintar ngomong? Sudah bisa ngomong apa? Bahasa Jawa, Indonesia, Arab atau Inggris? Nasehatnya: “Diajarin bahasa inggris dan bahasa arab sejak kecil ya”! Biar keren katanya. Kemudian saya jawab: “memang Mbah tahu kalau cucu-cucunya ngomong pakai bahasa arab atau inggris? ntar malah bingung? Ya kan?.
Mungkin ini pertanyaan yang penting, bahasa apakah yang pertama-tama kita harus ajarkan kepada anak kita? Sudah tentu bahasa ibu, bahasa asli kita, bahasa dari mana kita berasal. Pengalaman saya, Fatma anak saya sudah dapat menguasai bahasa Indonesia70% pada umur 4 tahun, dia sudah bisa mengekspresikan keinginannya dengan bahasa Indonesia yang sederhana dan dia sudah mengerti dan sangat komunikatif dalam bahasa Indonesia. Selang berjalannya waktu semakin hari semakin sempurna dan kosa katanya pun terus bertambah.
Setelah umur 4 tahun kami memulai mengajarkan bahasa Inggris dan sedikit bahasa Arab, tapi dia lebih bakat dalam bahasa Inggris, maka saya lebih banyak mengajarkan bahasa Inggris.
Usia Terbaik
Perkembangan otak anak sesuai dengan pola tertentu. Untuk usia tiga sampai enam tahun otak yang berfungsi lebih baik adalah bagian depan. Pada usia ini, meski anak belum lancar berkomunikasi secara lisan namun anak mulai belajar menggabungkan beberapa kata menjadi kalimat sederhana.

Untuk memulai mengajarkan anak belajar bahasa, terutama untuk bahasa kedua, masa yang paling efektif adalah usia 6-13 tahun. Karena pada masa ini otak bagian belakang yang berkaitan dengan perkembangan bahasa sedang berkembang dengan baik. Dan kami mengajarkannya sedikit lebih awal, mungkin itu sebabnya sehingga hasilnya kurang optimal.
Faktor lingkungan sangat menentukan perkembangan kemampuan berbahasa anak terutama di sekolah, walaupun agak kerepotan dimasa awalnya tapi akhirnya anak saya bisa beradaptasi dan berkomunikasi dengan bahasa arab dengan temannya karena terpaksa (di kelasnya berjumlah 20 anak, semuanya anak-anak arab kecuali 1 anak saya orang Indonesia: bagi dia ini adalah lingkungan yang sangat ekstrim (kurang baik) karena memaksa dia untuk terpaksa beradaptasi). Setiap kita harus memahami kemampuan anak sesuai dengan usianya. Selain itu anak akan lebih mudah menggunakan dua bahasa apabila anak telah menguasai bahasa ibu.

Kita sebagai orang tua harus menguasai bahasa kedua yang akan digunakan, sehingga bisa membantu melancarkan perkembangan bahasa anak. Kita juga harus memberi perhatian pada lingkungan, jangan sampai terdapat beberapa bahasa yang berbeda karena dapat membuat anak mengalami gagap bahasa atau kebingungan berbahasa, anak-anak kami tidak bisa berbahasa jawa, kalau kami ngomong jawa mereka bilang bahwa kami ngomong ngawur, tetangga depan rumah orang Mesir ngomong arab, sebelahnya orang India ngomong bahasa Urdu, ada juga Somalia dan Philipina semuanya ngomong dengan bahasa mereka sendiri. Parah kan?
Contoh: suatu hari Fatma dan Ahmad main sepeda, kemudian dia memanggil adiknya, “ta’al Ahmad, hurry lah !! maksudnya adalah Ahmad kemari..cepetan donk !! trus Ahmad menjawab: “wait, the wheel is gembos (tunggu.., ban sepedanya gembos).
Hari yang lain, Ahmad rebutan sepeda dengan Abdullah (adiknya), dia sambil marah-marah melapor pada saya, “He always win alone” (maksudnya: dia selalu ingin menang sendiri)..lucu ya…
Suatu hari Ahmad bertanya ketika mau beli bensin, “Babe..bahasa inggrisnya beli bensin itu ” full special ya”?….lucu ya? Sungguh-sungguh terjadi.

Bilingual atau menguasai dua bahasa memang diperlukan. Apalagi tuntutan globalisasi yang memungkinkan anak berinteraksi dengan dunia yang lebih luas. Ukurlah kebutuhan dan kemampuan anak agar hasilnya dapat maksimal. Jangan lupa juga, kita sebagai orang tua pun harus siap untuk belajar dan mengembangkan kemampuan bahasa, karena tidak cukup jika hanya mengandalkan sekolah atau tempat kursus saja.
Dedicated to Orang Tua yang peduli anak.

2 responses to this post.

  1. Terjadi juga pada anak-anak kami yang juga lahir di Emirates. Waktu kami ajak pulang ke Indonesia, mereka yang memang sudah menguasai dengan baik bahasa Indonisia, dan sesekali kami selipkan object-object seperti animals, fruits atau object yang lain. Anak saya yang laki-laki doyan makan sambel sejak kecil, turunan ibunya barangkali, karena saya suka sambel trasi juga bapaknya yang suka sambel kecap untuk makanan tertentu. Dia hanya menyebutnya sambel black untuk sambel kecap, karena warnanya yang hitam, dan sambel red untuk sambel trasi dengan cabai merah dan tomatnya. So, ketika di Indonesia, Dzaky minta makan sama Mbah nya yang kebetulan lagi senang ngladenin cucunya yang baru pulang, dan dia minta makan sama sambel black (baca : blek), Mbah nya bingung lalu memanggil kami…”Hen, iki gak eruh iki anakmu njaluk apa, sambel blek, gak duwe blek Embah, duwene toples!”(minta apa ini anakmu, sambel blek, nggak ada blek(jawa:kaleng), adanya toples). Kemudian saya jelaskan apa yang dia mau. Ibu bilang “oalah Nak, onok2 wae, lha Mbahe gak isok boso Londo” (ada2 saja, mbahnya nggak bisa basa Inggris). Lain cerita dengan Salma anak kedua kami, setiap ada yang berbicara dengan bahasa Jawa dia yang belum begitu mengerti bahasa Jawa(Surabaya), karena memang kami hanya mengajari Bahasa Indonesia, dia selalu kembali pada kami menanyakan artinya. Lalu di malam hari sebelum tidur, mereka mendiskusikan kata-kata yang mereka dapat selama bermain dengan saudara-saudara sebayanya, “Ibu, kalo ayam itu chicken ya Ibu, kalo abang(jawa:merah) itu red ya Ibu”
    Kecerdasan anak kadang unexpected, mereka cepat mengerti dan menangkap apa yang hanya satu kali mereka dengar. Oleh karena itu, sebagai orang tua kita juga harus hati-hati dalam memilih kata-kata dalam menyampakikan sesuatu agar mereka mencontoh kata-kata yang baik dan pantas untuk mereka ucapkan.
    Selamat mengasuh anak-anak tersayang

    Reply

    • Posted by Imam Abu Fatma on February 18, 2012 at 4:45 pm

      Makasih mbak Heni atas sharingnya, kalau anak – anak kami lebih parah lagi, tetangga depan rumah orang India, tiap hari mereka main terus, sekarang logat bahasa inggrisnya yang dulu udah agak bagus sekarang jadi ada nada-nada India.

      Point penting yang harus digaris bawahi adalah bahwa anak-anak kita itu belajar sangat cepat tentang bahasa apapun tergantung di lingkungan mana mereka tinggal dan bahasa utama apa yang kita ajarkan.

      Dan yang lebih penting lagi adalah bahwa kita harus mengajarkan bahasa Ibu kepada anak-anak kita semenjak kecil setidaknya 75 % harus tahu.

      Sukron.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.